Day 126



Akhir akhir ini cuaca mulai terasa sedikit dingin. Sepertinya musim disini mirip dengan musim gugur dan musim dingin.
Menurut cerita kakek Gobujii, sepertinya area ini tidak mengalami musim salju. Meski begitu, karena ada banyak anak anak kecil dan anak yang baru lahir disekitar, saya meminta pada para Leprechaun dan manusia lainnya untuk membantu memulai membuat beberapa pakaian untuk digunakan sebagai penghangat musim dingin.
Dipagi harinya, saya sendiri dan Minokichi-kun berlatih berarung di Arena [External Training Grounds].
Kemudian disore harinya, saya memutuskan untuk memberikan beberapa latihan kepada Auro, Argento dan Oniwaka.
Putri sulungku Auro dan putra tertua Argento sepertinya mewarisi kedua darah manusia dan Ogre, membuat mereka berdua [Half-Ogre].
Mereka diberikan nama berdasarkan dengan bola Emas dan Silver yang mereka miliki.
Dalam keadaan normal, tidak biasanya bagi mereka memiliki bola Ogre, meski begitu, saya tidak berpikir bahwa itu aneh mengingat bahwa mereka adalah anak anakku.
Ketka Auro, menggunakan Bola, sebuah busur emas muncul yang digunakan sebagai tombak, warna yang sama sebagai peluru.
Ketika Argento menggunakan bolanya, sebuah busur besar berwarna silver muncul yang digunakan sebagai tombak partisan dengan warna yang sama sebagai pelurunya.
Sepertinya mereka berdua berbakat secara alami dengan senjata berjarak jauh seperti busur.
Dengan sedikit latihan dan usaha yang bagus, mereka harusnya bisa dengan mudah menembak sasarannya.
Panah mereka bukanlah sembarangan panah, saya tidak terlalu mengerti bagaimana caranya panah itu bekerja, tapi kedua tombak dan partisan itu terbang seperti panah biasa.
Jadi, terlepas bahwa apakah itu benar benar anak panah atau tidak, saya memutuskan untuk menamakannya seperti itu.
Kekuatan yang keluar dari anak panah itu cukup tinggi.
Sepertinya mereka bisa membuat panah saat mereka menggambar busur mereka dan karena hal itu, mereka tidak sepertinya bisa kehabisan amunisi.
Dengan fakta tersebut, saya mungkin bisa membawa mereka ke medan perang sesegera mungkin.
Dengan mempertimbangkan hal itu, saya memutuskan untuk mengajarkan mereka banyak keterampilan pertarungan jarak dekat untuk bisa membela diri merka, bahkan jika mereka petarung yang selalu bergerak. Terkadang dibutuhkan bagi pemanah untuk bisa membela diri mereka sendiri jika lawannya mendekat.
Tentu saja, tombak dan Partisan bisa digunakan sebagai senjata biasa jika dibutuhkan.
Sedangkan Oniwaka yang mana [High Ogre], tingginya sekitar 180 centimeter.
Selain itu, otot otonya sepertinya bisa berkembang sedemikian rupa hingga dia mendapatkan kekuatan otot seorang [Ogre] dewasa.
Karena hal itu, saya memutuskan untuk mwnfajarinya teknik bertarung jarak pendek dengan mereka berdua. Sayua juga memanggi Minokichi-kun sebagai pembantu latihan mereka.
Senjata yang dipilih Oniwaka adalah Kanabo, yang merupakan pentungan yang besar murni Mithril.
Banyak peralatan yang mirip dengan perlengkapan yang dipakai Minokichi-kun awalnya.
Sepertinya dia menghormati Minokichi-kun yang mana itu membuatku sedikit kesepian sebagai ayahnya.
Saya harus mengatakan, perasaan ini sangat memuaskan melihat anak anak tumbuh lebih kuat seiring berjalannya waktu.
Pada malamnya, kelompok yang tersisa yang dulunya pergi akhirnya kembali.
Selain dari seorang manusia laki laki, saya harus berada disini untuk mengamati, sisa sisa anggota Parabellum akhirnya bisa berkumpul kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar